
What a Data Analyst Does Day-to-Day
Analytics · 13 Jan 2026
A practical, seniority-based guide to the day-to-day work of data analysts with sample job descriptions and skills.

Pernah bingung bedanya analisis deskriptif, diagnostik, prediktif, dan preskriptif? Ini penjelasan simpel + contoh nyata.
Pernah nggak kamu lihat data penjualan, terus mikir "Oke, terus gue harus ngapain sama angka-angka ini?" Atau udah bikin dashboard keren tapi nggak tahu insight apa yang sebenarnya bisa diambil?
Analitik data itu bukan cuma soal bikin chart atau hitung-hitungan. Ini soal ngubah data mentah jadi informasi yang bisa bantu kamu ambil keputusan lebih baik. Bayangin kamu punya toko online, ada data ribuan transaksi—kalau nggak tahu cara bacanya, ya cuma angka doang. Tapi kalau paham analitiknya, kamu bisa tahu produk mana yang laku, kenapa ada yang nggak laku, bahkan prediksi tren bulan depan.
Di tulisan ini aku mau share empat jenis analisis data yang wajib kamu tahu: deskriptif, diagnostik, prediktif, sama preskriptif. Kita bahas pakai contoh kasus sederhana yang relatable. Nggak usah takut ribet—ini justru yang bikin data analytics jadi masuk akal.
Sebenarnya simpel: analitik data adalah proses ngolah data mentah jadi insight yang bisa dipahami dan dipakai buat action. Jadi bukan cuma lihat angka, tapi ngerti apa artinya angka itu buat kerjaan kamu sehari-hari.
Ini sering kebalik. Data itu angka mentah: 150 transaksi hari ini. Informasi itu data yang udah dikontekskan: penjualan naik 20% dibanding kemarin. Insight itu kesimpulan yang actionable: kenaikan ini karena promo flash sale jam 12 siang, jadi sebaiknya kita rutin adain di jam yang sama. Nah, analitik data itu jembatannya—dari data ke insight.
Buat bisnis, analitik data bantu identifikasi masalah sebelum jadi besar, optimasi strategi marketing, bahkan prediksi tren pelanggan. Contoh nyata: kalau kamu lihat conversion rate tiba-tiba turun 15% minggu ini, kamu bisa langsung cek apakah ada masalah di website atau kompetitor lagi ngadain promo gede-gedean. Buat karier, skill ini makin dicari—proyeksi sampai 2030 menunjukkan demand untuk data analyst terus naik signifikan. Kenapa? Karena semua industri sekarang butuh orang yang bisa bikin sense dari data mereka.
Analitik data punya empat tingkatan yang saling terkait. Pertama, kamu lihat apa yang terjadi (deskriptif). Terus kamu cari tahu kenapa itu terjadi (diagnostik). Selanjutnya kamu prediksi apa yang bakal terjadi (prediktif). Terakhir, kamu dapet rekomendasi harus ngapain (preskriptif). Makin ke atas, makin kompleks tapi juga makin powerful buat ambil keputusan. Tenang, kita bahas satu-satu dengan contoh yang gampang dipahami.
Oke, sekarang kita masuk ke inti. Keempat jenis analisis ini punya tujuan dan cara kerja yang beda. Kalau kamu paham bedanya, kamu bisa pilih approach yang tepat sesuai pertanyaan yang mau dijawab.
Analisis deskriptif jawab pertanyaan "Apa yang terjadi?" Ini paling dasar—kamu summarize data masa lalu jadi angka atau visual yang mudah dipahami. Analisis diagnostik jawab "Kenapa itu terjadi?" Kamu gali lebih dalam untuk cari penyebab dari pola yang kamu lihat. Analisis prediktif jawab "Apa yang bakal terjadi?" Pakai data historis untuk forecast tren masa depan. Analisis preskriptif jawab "Aku harus ngapain?" Ini yang paling advanced—ngasih rekomendasi aksi berdasarkan semua insight sebelumnya.
Bayangin kamu punya toko baju online. Analisis deskriptif nunjukin total penjualan bulan ini Rp 50 juta, naik dari bulan lalu. Analisis diagnostik ngebongkar ternyata kenaikan itu karena koleksi baru laku keras di Instagram. Analisis prediktif bilang kalau tren ini lanjut, bulan depan bisa tembus Rp 65 juta. Analisis preskriptif ngasih saran: tambah stok koleksi serupa, naikin budget iklan Instagram 30%, dan bikin bundling promo buat produk yang slow-moving. Lihat bedanya? Dari cuma tahu angka, sampai dapet action plan konkret.
Pakai deskriptif kalau kamu butuh laporan rutin atau dashboard monitoring—misalnya weekly sales report. Pakai diagnostik kalau ada anomali atau hasil yang unexpected dan kamu perlu tahu root cause-nya. Pakai prediktif kalau kamu planning untuk periode mendatang—kayak budget tahunan atau inventory forecasting. Pakai preskriptif kalau kamu mau optimasi strategi dan butuh rekomendasi berbasis data, bukan cuma gut feeling. Dalam praktik, kamu sering pakai kombinasi keempatnya, bukan cuma satu.
Teori udah, sekarang kita lihat aplikasi nyata. Aku pakai satu kasus yang sama buat keempat jenis analisis biar kamu ngerti gimana mereka saling melengkapi.
Misalnya kamu punya data penjualan 3 bulan terakhir. Analisis deskriptif: Kamu bikin summary—total revenue Rp 150 juta, produk terlaris kaos polos (45% dari total), traffic website 12.000 visitors per bulan. Kamu visualisasi pakai line chart buat lihat tren harian. Simpel, tapi udah ngasih gambaran jelas apa yang terjadi. Analisis diagnostik: Eh, ternyata ada penurunan tajam minggu kedua Februari. Kamu drill down—ternyata website down 2 hari gara-gara server issue, plus kompetitor lagi flash sale besar-besaran. Nah, sekarang kamu tahu penyebabnya, bukan cuma lihat angka turun doang.
Dari data 3 bulan itu, kamu lihat pola: setiap akhir bulan penjualan naik 25-30% karena gajian. Kamu juga notice produk tertentu laku keras pas weekend. Pakai analisis prediktif sederhana—bisa mulai dari moving average di Excel—kamu forecast bulan depan bakal butuh stok 500 unit kaos polos, bukan cuma 350 kayak biasa. Kamu juga prediksi traffic bakal naik 15% kalau promo dijalanin di tanggal 25-30. Ini bantu kamu prepare inventory dan budget marketing dengan lebih akurat, nggak cuma nebak-nebak.
Setelah tahu semua insight di atas, analisis preskriptif ngasih action plan: alokasikan 40% budget marketing ke Instagram Ads karena conversion rate-nya 3x lebih tinggi dari Facebook. Jalankan flash sale di tanggal 28-30 setiap bulan buat maximize momentum gajian. Tambah stok produk A dan B 35%, kurangi produk C yang conversion-nya rendah. Upgrade server biar nggak down lagi pas peak traffic. Intinya: kamu nggak cuma tahu apa yang terjadi dan kenapa, tapi juga dapet roadmap jelas harus ngapain selanjutnya.
Kabar baiknya, kamu nggak perlu langsung belajar coding atau beli software mahal buat mulai. Ada banyak tools yang accessible dan cukup powerful buat pemula.
Mulai dari Excel atau Google Sheets. Serius, ini udah cukup buat analisis deskriptif dan diagnostik dasar. Kamu bisa bikin pivot table, chart, bahkan formula sederhana buat hitung growth rate atau average. Kalau mau lebih visual, coba Google Data Studio (sekarang Looker Studio)—gratis dan bisa connect ke Google Sheets langsung. Buat dashboard sederhana yang auto-update, ini udah lebih dari cukup. Jangan underestimate tools sederhana—banyak keputusan bisnis penting yang cukup pakai Excel aja.
Kalau udah comfortable dengan dasar-dasarnya, kamu bisa naik level ke Python atau R buat analisis prediktif. Library kayak pandas, numpy, dan scikit-learn di Python bikin statistical analysis dan machine learning jadi lebih accessible. Buat visualisasi yang lebih canggih dan interaktif, Power BI atau Tableau bisa jadi pilihan—ada versi gratis atau trial yang bisa kamu explore. Tapi ingat, tools itu cuma alat. Yang lebih penting adalah cara berpikir analitis dan ngerti konteks bisnis-nya.
Buat pemula, fokus dulu ke konsep statistik dasar: mean, median, standard deviation, correlation. Ini fondasi buat semua analisis lanjutan. Kalau mau masuk prediktif, mulai dari linear regression—ini paling sederhana tapi surprisingly powerful. Buat diagnostik, pakai cohort analysis atau segmentation sederhana. Jangan buru-buru loncat ke deep learning atau algoritma kompleks. Master dulu yang fundamental, baru naik ke teknik yang lebih advanced. Yang penting kamu paham logika di balik setiap metode, bukan cuma asal pakai formula.
Intinya, analitik data itu soal ngubah angka jadi action. Keempat jenis analisis—deskriptif, diagnostik, prediktif, preskriptif—saling melengkapi dan kasih kamu gambaran lengkap dari "apa yang terjadi" sampai "aku harus ngapain." Nggak perlu langsung master semuanya sekaligus. Mulai dari deskriptif dulu: biasain lihat data, bikin summary, cari pola. Terus naik ke diagnostik: tanya "kenapa" setiap kali lihat angka yang menarik. Kalau udah nyaman, baru explore prediktif dan preskriptif.
Yang paling penting: jangan stuck di tools atau teknik aja. Fokus ke pertanyaan bisnis yang mau dijawab, baru pilih metode dan tools yang tepat. Data analytics bukan tentang bikin dashboard paling keren atau pakai algoritma paling canggih—tapi tentang ngasih insight yang actionable buat orang-orang di sekitar kamu. Selamat explore!

Analytics · 13 Jan 2026
A practical, seniority-based guide to the day-to-day work of data analysts with sample job descriptions and skills.

Analytics · 12 Jan 2026
SQL for data analysts — Master 10 real-world queries with examples, tables, and actionable tips to analyze, join, and summarize data.

AI · 29 Dec 2025
OpenAi rolls out GPT-5.2 across ChatGPT tiers with Instant, Thinking, and Pro variants for improved accuracy and coding.

AI · 29 Dec 2025
OpenAI, Disney reach $1B deal to license 200+ characters for Sora; three-year license, APIs and ChatGPT integration announced.

Analytics · 23 Dec 2025
learn data trends now: 12 practical skills to master analysis, visualization, ML, cloud platforms, pipelines, and governance.

AI · 23 Dec 2025
disco: Google Labs debuts GenTabs on Dec. 11, 2025 to convert open tabs into AI-powered web apps for complex tasks.

Analytics · 12 Dec 2025
modern data teams guide: roles, lifecycle, tools, governance, hiring — practical tips to build better data teams

AI · 19 Nov 2025
cloudflare down on Nov 18 disrupted major services globally; postmortem blames a Bot Management file and confirms full restoration by 17:06 UTC.

Analytics · 19 Nov 2025
Data visualization techniques to explain complex data to non-technical stakeholders with five patterns and examples.