Tiga belas tahun lebih bekerja di Data, Analytics, Product Development, dan Technology, dan satu hal yang paling sering saya temui bukan soal tools yang kurang canggih atau data yang kurang lengkap. Yang lebih sering jadi akar masalah justru pertanyaan yang dari awal belum cukup jelas. Saya Deden Sembada, dan kalau kamu baru pertama kali mampir ke sini, saya rasa penting untuk cerita sedikit tentang siapa saya sebelum kamu memutuskan mau ikut perjalanan ini atau nggak.
Saya nggak akan cerita ini sebagai kisah sukses atau daftar pencapaian. Karena buat saya, yang lebih berguna untuk dibagikan adalah bagaimana cara berpikir saya berubah sepanjang jalan, dari web development, system analyst, project manager, sampai akhirnya masuk ke dunia data analytics, leadership, dan sekarang AI product. Di bagian berikut, saya akan cerita soal siapa saya, apa yang sudah saya jalani, apa yang sedang saya pelajari sekarang, dan bagaimana kamu bisa ikut mengikuti proses ini kalau memang relate.
TL;DR
- Deden Sembada punya latar belakang 13+ tahun lintas web development, project management, data analytics, hingga AI product development.
- LearnWithDeden dibangun untuk mendokumentasikan proses berpikir, termasuk yang gagal dan belum selesai.
- Fokus kontennya adalah cara berpikir menyelesaikan masalah, bukan sekadar tutorial tools.
- Sejak 2026, Deden Sembada berjalan sebagai independent consultant untuk produk AI dan strategi data.
- Kamu bisa ikut proses belajar ini lewat @learnwithdeden dan learn.dedensembada.com.
Siapa Saya dan Kenapa Saya Mulai Menulis di LearnWithDeden
Kalau ditanya siapa saya secara singkat, saya biasa jawab: saya orang yang sudah cukup lama bermain di persimpangan antara data, teknologi, dan produk. Tapi jawaban itu terlalu rapi untuk menggambarkan proses yang sebenarnya berantakan. Saya mulai dari web developer, pindah ke system analyst, lanjut jadi project manager, lalu perlahan masuk ke dunia data analytics sampai akhirnya memimpin tim analytics dan membangun produk berbasis AI.
Setiap perpindahan itu nggak terjadi karena saya punya rencana besar dari awal. Lebih sering karena saya menemukan masalah yang bikin saya penasaran, lalu saya coba pahami lebih dalam sampai akhirnya masalah itu jadi role baru buat saya. Saya butuh waktu cukup lama untuk sadar bahwa yang membuat saya bisa pindah-pindah domain bukan karena saya jago satu tools tertentu, tapi karena saya cukup nyaman dengan proses memahami masalah dari nol.
LearnWithDeden lahir dari kebutuhan yang sama. Saya ingin punya tempat untuk sharing ulang proses berpikir itu, bukan cuma hasil akhirnya. Karena setiap kali saya cerita ke rekan kerja atau mentee soal bagaimana saya mengambil keputusan tertentu, yang mereka anggap berguna justru bagian prosesnya, bukan hasilnya. Jadi saya di sini bukan berperan sebagai expert yang tahu segalanya, tapi lebih sebagai orang yang masih terus belajar dan kebetulan punya cukup banyak pengalaman untuk dijadikan bahan cerita.
Saya juga sadar, cerita soal 13 tahun pengalaman bisa terdengar seperti authority badge kalau nggak hati-hati cara menyampaikannya. Makanya saya lebih suka bilang: saya butuh waktu bertahun-tahun untuk sadar bahwa masalah yang kelihatannya teknis, hampir selalu berawal dari konteks yang belum jelas. Itu insight yang nggak datang dari teori, tapi dari berkali-kali salah paham soal apa yang sebenarnya dibutuhkan stakeholder.
Perjalanan Karier: Dari Web Developer Sampai AI Product Leader
Kalau saya runut, jalur karier saya kelihatan cukup zig-zag. Saya mulai sebagai web developer di sebuah agency kecil, mengurus HTML, CSS, JavaScript, dan integrasi backend untuk klien-klien lokal. Dari situ saya belajar bahwa membangun sesuatu yang berfungsi itu satu hal, tapi membangun sesuatu yang benar-benar dibutuhkan klien itu soal lain.
Dari web developer, saya pindah ke system analyst di sebuah agency periklanan besar, lalu naik jadi project manager yang mengurus kampanye digital untuk beberapa brand nasional. Fase ini yang mengajari saya soal stakeholder management, koordinasi lintas tim, dan pentingnya dokumentasi yang jelas. Saya waktu itu belum sadar, tapi kemampuan ini nantinya jadi modal penting ketika saya pindah ke dunia data.
Titik baliknya terjadi saat saya masuk ke KapanLagi Youniverse sebagai data analyst, lalu naik jadi senior data analyst, manager, sampai akhirnya Head of Data Analytics. Di fase ini saya membangun ekosistem data end-to-end, dari tracking implementation, pipeline, data warehouse, sampai visualisasi yang dipakai lintas divisi. Saya juga memimpin dan mengembangkan tim analytics beranggotakan 5 sampai 8 orang, sekaligus menginisiasi produk CMS berbasis AI untuk tim editorial.
Sekarang, sejak 2026, saya menjalani fase baru sebagai independent consultant untuk produk AI dan strategi data analytics. Saya bekerja sebagai product technical partner untuk beberapa client, termasuk membangun platform ekosistem creator berbasis AI dan merancang strategi analytics untuk konten dan SEO. Fase ini yang paling menantang karena saya nggak lagi punya struktur perusahaan besar di belakang saya. Semua keputusan, dari scoping produk sampai teknis eksekusi, saya yang harus tanggung jawab penuh.
Apa yang Bisa Kamu Pelajari dari Cerita Deden Sembada
Saya sering ditanya, apa sebenarnya yang bisa diambil dari cerita saya kalau latar belakang orangnya beda-beda. Jawaban saya selalu sama: bukan jalur kariernya yang penting untuk ditiru, tapi cara berpikir di balik setiap perpindahan itu yang lebih relevan buat siapa saja.
Salah satu pelajaran paling mahal yang saya dapat adalah soal dashboard dan data. Dulu saya mengira semakin bagus visual dashboard, semakin mudah stakeholder mengambil keputusan berdasarkan data itu. Ternyata nggak sesederhana itu. Saya pernah membangun dashboard yang secara teknis rapi, tapi ujung-ujungnya nggak pernah dipakai karena pertanyaan bisnis di baliknya nggak pernah benar-benar terjawab. Baru setelah itu saya sadar, masalahnya bukan di visualnya, tapi di pertanyaan yang saya bantu jawab.
Pelajaran lain datang dari fase saya memimpin tim analytics. Saya pikir kepemimpinan itu soal punya jawaban paling benar setiap saat. Belakangan saya sadar, bagian yang lebih penting justru membantu tim bertanya dengan lebih tajam sebelum mereka mulai analisis. Kalau pertanyaannya salah dari awal, secanggih apapun analisisnya, hasilnya tetap nggak akan berguna buat keputusan bisnis.
Dan yang paling baru, dari pengalaman saya mengintegrasikan AI dan LLM ke dalam workflow analytics, saya belajar bahwa AI itu alat bantu berpikir, bukan pengganti proses berpikir. Saya pernah berharap AI bisa mempercepat semua proses analisis, tapi ternyata yang paling menentukan hasilnya tetap bagaimana saya merumuskan prompt dan pertanyaan di awal. Insight-insight semacam ini yang saya coba dokumentasikan terus di LearnWithDeden, termasuk yang masih dalam proses dan belum ada jawaban finalnya.
Cara Terhubung dan Mengikuti Perjalanan Belajar Bersama Deden
Kalau kamu merasa relate dengan cerita di atas, atau sedang berada di titik karier yang mirip dengan salah satu fase yang saya lewati, cara paling mudah untuk ikut proses ini adalah follow saya di @learnwithdeden. Di sana saya mulai coba rutin membagikan potongan pengalaman kerja, eksperimen yang sedang saya jalani, dan refleksi dari hal-hal yang nggak berjalan sesuai rencana.
Selain itu, saya juga aktif menulis tulisan teknis yang lebih panjang di learn.dedensembada.com. Kalau kamu lebih suka format tulisan yang mendalam soal data, AI, atau product development, tempat itu biasanya lebih pas dibanding potongan konten singkat di media sosial. Saya juga cukup terbuka untuk terhubung lewat LinkedIn kalau kamu ingin ngobrol lebih personal soal transisi karier atau tantangan spesifik yang sedang kamu hadapi di dunia data dan product.
Yang perlu saya tekankan, saya nggak menulis semua ini untuk membuat kamu mengikuti jalur karier saya persis seperti apa adanya. Perjalanan saya dari web developer sampai independent consultant itu sangat spesifik dengan konteks zaman dan kesempatan yang saya dapat waktu itu. Yang lebih berguna untuk kamu ambil adalah cara saya menghadapi ketidakpastian di setiap perpindahan, bukan langkah-langkah persis yang saya jalani.
Saya juga masih terus belajar sampai sekarang, terutama soal bagaimana AI mengubah cara kita bekerja dengan data dan membangun produk. Jadi kalau kamu ikut perjalanan ini, anggap saja kita sama-sama sedang mencari tahu, bukan saya yang sudah punya semua jawaban dan kamu yang tinggal mengikuti.
Pada akhirnya, cerita saya bukan tentang seberapa jauh saya sudah melangkah, tapi tentang bagaimana cara berpikir saya terus berubah setiap kali menghadapi masalah baru. Kalau kamu sedang berada di persimpangan karier yang mirip, atau sekadar ingin melihat bagaimana seseorang terus belajar meskipun sudah berpengalaman belasan tahun, LearnWithDeden bisa jadi tempat yang pas untuk kamu ikuti pelan-pelan. Langkah paling sederhana untuk mulai adalah follow @learnwithdeden dan lihat sendiri apakah cara berpikir yang saya bagikan relate dengan situasi yang sedang kamu hadapi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa sebenarnya Deden Sembada?
Deden Sembada adalah praktisi dengan lebih dari 13 tahun pengalaman di Data, Analytics, Product Development, dan Technology, mulai dari web developer hingga Head of Data Analytics, dan sejak 2026 berjalan sebagai independent consultant untuk produk AI dan strategi data.
Apa itu LearnWithDeden?
LearnWithDeden adalah ruang dokumentasi perjalanan belajar, bekerja, dan membangun di bidang Data, AI, Product, dan Technology, yang dikelola oleh Deden Sembada dengan fokus pada proses berpikir, bukan sekadar hasil akhir atau daftar tools.
Apakah konten LearnWithDeden cocok untuk pemula di bidang data?
Cocok, terutama karena kontennya lebih menekankan cara memahami masalah dan mengambil keputusan dibanding tutorial teknis semata, sehingga bisa membantu early-career professional membangun cara berpikir yang lebih grounded.
Bagaimana cara mengikuti perjalanan Deden Sembada?
Kamu bisa follow akun @learnwithdeden untuk update rutin, atau membaca tulisan yang lebih mendalam di learn.dedensembada.com, dan terhubung lewat LinkedIn kalau ingin diskusi lebih personal.
Apakah semua pengalaman yang dibagikan Deden Sembada selalu berhasil?
Tidak selalu. Sebagian besar konten justru berasal dari eksperimen yang tidak berjalan sesuai rencana atau asumsi awal yang ternyata salah, karena proses berpikir di baliknya dianggap sama berharganya dengan hasil akhir yang sukses.








